Sejarah pemberian nama Manggarai
Nama Manggarai berasal dari dua suku kata yaitu kata Manggar dan kata Rai. Kata Manggar diambil dari nama batu yang dibawa oleh Empo Masur seorang keturunan raja (Raja Luwu) dari Sumatera Barat yang artinya Watu Jangkar yang biasanya digunakan untuk menahan Wangka (Perahu) ketika Wangka (perahu) berhenti. Sementara itu, Watu Rai berarti batu asah yang digunakan untuk mengasah parang, tombak dan lain-lain oleh masyarakat setempat. Kedua batu ini merupakan dasar pemberian nama Manggarai.
Empo Masur berdampak pada perubahan nama tempat yang ia datangi yaitu dari nama Nuca Lale atau Lale Lombong berubah menjadi Manggarai. Hal ini menunjukan bahwa pada awalnya nama Manggarai adalah Lale Lombong atau Nuca Lale. Adanya perubahan nama Nuca Lale atau Lale Lembong menjadi Manggarai karena kedatangan Empo Masur membawa banyak perubahan untuk masyarakat setempat. Kehadiran Empo Masur melahirkan istilah Caci, Lodok Lingko, Mbaru Niang, Nggong, dan Gendang di Manggarai.
Ada beberapa nilai budaya Daerah Manggarai yang sampai sekarang ini masih tetap dijaga kelestariannya. Yang pertama adalah budaya Caci. Caci pertamakali dipelopori oleh Empo Masur. Kata Caci itu sendiri berasal dari tiga suku kata yaitu ci gici ca.Ketiga kata ini memiliki kesatuan arti yaitu menguji kemampuan seseorang. Ci artinya menguji, gici artinya perorang, dan ca artinya satu. Jadi secara harafiah caci berarti menguji kemampuan lelaki Manggarai satu persatu. Akan tetapi dalam kenyataannya tidak semua laki-laki Manggarai mampu memperagakan Caci. Hal ini dikarenakan, Caci menuntut para aktornya untuk memiliki keberanian, kelincahan, keindahan suara, dan pandai bergoyang (lomes). Sejarah munculnya Caci di Manggarai diawali dengan inspirasi dari Empo Masur yang menghubungkan kebiasaan mereka di Sumatera Barat (Sabung Kerbau) sebagai budaya untuk menghibur masayarakat.
Perubahan yang dibuat Empo Masur bukan hanya terbatas pada pembentukan Caci sebagai budaya daerah. Ada beberapa istilah yang dibuat Empo Masur selama hidupnya di tanah Manggarai yaitu Lodok Lingko, Mbaru Niang, Nggong, dan Gendang. Sampai sekarang masyarakat Manggarai menggunakan istilah-istilah budaya ini dalam setiap perhelatan kegiatan kebudayaan.
Perkembangan Manggarai
Pada masanya Manggarai memiliki enam (6) raja. Raja pertama adalah Raja Lanur yang berasal dari Wudi. Raja kedua adalah raja Sehak yang berasal dari Ntala Ruteng. Raja ketiga adalah Lontar yang dijuluki Melondek berasal dari Cabo bagian Cibal. Raja keempat adalah Tamur berasal dari Todo. Raja kelima adalah Ngambuk yang juga berasal dari Todo. Dan raja yang terakhir adalah raja Barut.
Pada masa Raja Lontar, daerah Manggarai dibagi kedalam bentuk Dalu. Dalu dalam pemahaman sekarang disebut Kecamatan. Ada 37 Dalu dalam Masa kepemimpinan Raja Lontar yaitu Ruteng, Rahong, Ndoso, Kolang, Pongkor, Poco, Leok, Sita Torok, Golo, Rongga Koe, Kempo, Rajong, Manus, Riwu, Ndehes, Cibal, Lamba Leda, Reok, Pasat, Nggalak, Bari, Rego, Congkar, Biting, Rembong, Pota, Manus, Ruis, Mata Wae, Mburak, Welak, Wontong, Lelak, Todo, Bajo, Nggorang, dan Raju.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar